Saturday, June 29, 2013

Program Baksos dan Tentang Hidup di Luar Negeri

Hari ini kelompok saya cukup beruntung. Sebagaimana kekhawatiran saya, ketiadaan koordinasi antara panitia dengan pihak kelurahan cukup membuat proses “pengenalan medan” agak..hm.. tidak ideal. Tentunya setiap kelompok akan otomatis mendatangi RT terdekat dan considering ada 14 kelompok. Well…kita serasa harus dulu-duluan dengan kelompok lain untuk “mendapatkan RT”. Bayangin, masa ya satu RT dikeroyok 14 kelompok?

A challenge for an anthropologist J

Setelah kegagalan mendekati Pak Ketua RT 03 karena keduluan kelompok lain, beberapa teman kelompok saya mendatangi sebuah rumah yang berplang RW 05 dan sukses….ditolak! Sebelum ada penolakan itu, saya sudah menangkap gelagat enggan dari ibu-ibu yang hendak diwawancarai teman-teman saya itu. Maka saya pikir, daripada saya bengong di situ menyaksikan “penolakan” saya mau ngobrol saja dengan ibu-ibu di situ yang sedang belanja. Setelah basa basi dikit, saya langsung tanya saja to the point: kalau mau bikin baksos bagusnya di mana bu?. Si ibu langsung menjawab ke RT 02 saja karena Ketua RT nya suka mengadakan baksos.

Jackpot!

A lesson learned: your research subject is the one who KNOWS the answers. You? You don’t know a single thing. Don’t assume that because they don’t have your methodological skills (or your education level), they can’t answer your questions or solve your problems.

Lalu setelah cari-cari dikit, akhirnya kami sukses menemui sekretaris RT (Bu Ketua RT nya soalnya lagi pengajian). Bersyukur sekali kami, bahwa RT ini benar-benar antusias dengan program baksos yang kami tawarkan. Terbukti juga ketika kami ngobrol dengan warga sambil sama-sama jajan jamu keliling yang kebetulan lagi lewat, mereka menyambut ide baksos kami dan mengatakan bahwa kegiatan baksos tersebut akan disenangi oleh warga.

Masalah baksos selesai. Lalu siang ini dilanjutkan dengan materi tentang hidup di luar negeri.

Terus terang saja pemaparan dari Dr. Irid Agoes buat saya isinya membosankan. Bukan karena beliau pembicara yang buruk, sebaliknya beliau pembicara yang sangat sangat bagus. Semangatnya, cara penyampaiannya semuanya luar biasa bagus. Akan tetapi content dari yang disampaikan itu sama sekali bukan hal baru buat saya yang sudah belajar antropologi. Tetap menyenangkan mendengarkan beliau memaparkan presentasinya; tentang adaptasi budaya, intercultural competence dan konsep-konsep intercultural, tapi beneran deh.. buat anak antropologi itu semua udah dimakan habis di semester 1….bulan pertama. Ehm, apalagi saya, yang meskipun belum pernah ke luar negeri, akan tetapi (duh bukan bermaksud sombong sih), exposure terhadap global/international culture cukup tinggi. Bukan karena saya rajin belajar dan suka melakukan kegiatan-kegiatan intelek dan berbudaya, tapi karena saya rajin nonton serial tipi barat dari kecil…. Hehe…


Pemaparan dari Mbak Delia juga buat saya secara konten tidak terlalu menarik meskipun cukup banyak tips berguna, tapi saya terpesona dengan kepribadiannya yang kuat. Kesuksesan beliau juga sangat memotivasi. Dan hmmm…jadi nggak sabar mendapatkan experience untuk tinggal dan belajar di luar negeri nih.

Friday, June 28, 2013

Membangun kapasitas dan karakter pemimpin bangsa: Pemaparan dari sosiolog Imam Prasodjo

Jujur, ini tulisan paling sulit saya buat. Karena Pak Imam Prasodjo menyampaikannya dengan amat sangat brilian, saya nggak tau lagi bagaimana menulisnya. Keindahan dari materi ini adalah cara penyampaiannya serta “dialog” antara sang pembicara dengan audience dan saya tak mampu mereplikasinya dalam tulisan ini.

Dengan resiko bahwa tulisan ini kering kerontang kayak padang pasir… here goes

Ada dua syarat yang menjadikan seseorang mendapat kepercayaan dari orang banyak: kapasitas dan karakter. Kapasitas adalah skill untuk dapat mengetahui sesuatu, sedangkan karakter adalah yang menjadikan tindakan yang mengeksekusi pengetahuan tersebut. Sebagai contoh, perlu skill

Apakah pemimpin itu?
Ada beberapa kata kunci yang menjelaskan arti kata pemimpin:
-          Mampu menggerakan orang lain
-          Kegiatan terencana
-          Perubahan nyata
-          Kehidupan bersama
-          Memberi motivasi
-          Tanpa pemaksaan
Nah sok atuh deh, coba rangkai kata kunci di atas menjadi suatu kalimat yang make sense! Nah lo, kok jadi puzzle. Habis definisinya panjang banget sih, jadi saya coba potong-potong jadi kata-kata kunci seperti di atas.

Ada beda antara pemimpin, manajer dan administrator. Pemimpin memiliki visi, manajer melakukan eksekusi dari visi tersebut, sedangkan administrator memelihara. Aaaaah baiklah. Pembagian tugas yang cukup jelas. Sebuah organisasi tidak akan bisa berjalan dengan baik tanpa ketiga fungsi itu.

Kemudian lagi-lagi masalah Indonesia yang multicultural. Memang ini adalah salah satu karakter penting dari bangsa Indonesia yang sepertinya tidak boleh kita lupakan. Kita terdiri dari berbagai adat, yang termasuk dalam berbagai etnik, ras dan agama, yang termasuk dalam berbagai bangsa, yang bersatu dalam satu modern nation, yang dipayungi oleh negara. Ada banyak aspek yang harus dibangun. Dalam nation building kita harus dapat membangun human resources, organizational development dan institution and legal framework.

Dan hanya sebegitulah yang bisa saya tuliskan. Kuliah sosiologi (dan antropologi) memang kadang agak abstrak begini sih. The weird thing is, you feel like you learn a lot from the lecture, and you do understand what s/he is talking about but you just can’t restate it.

Okay maybe that’s just me…


Simbol dan Seremoni Kebangsaan: Nasionalisme?

Sampai SMP saya masih menerima yang namanya Penataran Pancasila. Sepanjang SMP dan SMA saya ikutan kegiatan ekstra kurikuler Paskibra, alias baris berbaris alias petugas upacara bendera. Serentetan simbol dan seremoni dan tak lagi dianggap penting dalam semangat “reformasi” kita. Ya, saya pun benci seremoni. Tapi seberapa pentingkah simbol dan seremoni bagi sebuah bangsa bernama Indonesia?


Menurut para ahli yang membedah nasionalisme, dikatakan bahwa simbol adalah perekat nasionalisme yang sangat penting. Maka kita punya Pancasila, maka kita merayakan hari kemerdekaan, maka kita punya lagu kebangsaan. Bukan hanya kita, tetapi setiap negara-bangsa membutuhkannya. Apalagi bangsa majemuk seperti Indonesia yang terdiri dari banyak bangsa yang bersama-sama melalui Sumpah Pemuda membentuk sebuah modern nation.


Hari ini saya diingatkan kembali mengenai nilai-nilai kebangsaan. Tentang Sumpah Pemuda. Tentang Bhineka Tunggal Ika. Tentang identitas kebangsaan. Sungguh menarik bagaimana Pak Imam Maksudi menggunakan kisah pribadinya untuk bisa mengantarkan materi mengenai nilai-nilai kebangsaan. Beliau adalah mantan tentara, orang Jawa, yang di masa mudanya dikirim ke Kalimantan. Di sana ia bertemu sang istri yang asli Kalimantan. Di sini pengalaman pribadi beliau mencerminkan sekali nilai Kebhinekaan.


Tak bisa terelakan, semangat nasionalisme dikobarkan melalui simbol. Simbol lah yang mendeskripsikan dan mendefinisikan Indonesia. Apakah Indonesia itu? Pancasila. Bhineka Tunggal Ika. Merah Putih. Tanpa kata-kata ini, kita tidak akan bisa menjelaskan Indonesia. Masalahnya apakah semua orang menyadari hal ini dan mau menerima kenyataan bahwa bangsa Indonesia sesungguhnya adalah komunitas terbayangkan seperti kata Benedict Anderson dan direkatkan hanya dengan simbol dan seremoni? Sedangkan begitu banyak sudah kaum muda yang mengeluhkan kewajiban untuk memegang simbol-simbol ini lagi. Saya ingin tahu, apakah anak-anak kecil sekarang seperti saya dulu yang bersemangat nonton upacara pengibaran bendera di istana? Barangkali tidak, jadi apakah yang mereka pegang sebagai nilai-nilai kebangsaan saat ini?


Hm...?


Menulis akademik: Sekelumit how-to

Kalau ada satu hal yang saya sesali dari “karir” akademik saya (if I have any), adalah bahwa saya tidak memiliki publikasi di jurnal international. Ugh! Saya tahu saya mampu menulis dan sebagai buktinya sudah banyak sekali laporan-laporan penelitian untuk kantor yang dengan brilian saya kerjakan. Tapi ya itu. Itu laporan buat kantor.


Materi hari ini mengenai penulisan akademik, tentunya termasuk mengulas hal yang sudah biasa: urut-urutannya. Tentunya dimulai ketika kita menemukan masalah untuk dipecahkan. Maka kita mendapat ide untuk memecahkan masalah yang kita temui untuk kemudian merancang penelitian untuk ide itu. Lalu kita lakukan penelitiannya, tulis hasilnya dan kemudian publikasi.


Tetapi hal menarik yang disampaikan Prof. Muhammad Nasikin yang hari ini mengajarkan saya tentang academic writing adalah kenapa publikasi itu penting, dan kriteria penting apa yang harus dimiliki oleh sebuah tulisan agar menarik untuk dipublikasi. Publikasi menjadi penting agar tidak ada repetisi dari penelitian yang dilakukan. Jangan sampai dua penelitian yang sama dilakukan oleh dua orang yang berbeda, atau penelitian yang sudah ada direpetisi lagi. Novelty adalah syarat amat penting dari sebuah penelitian yang harus dipublikasikan. Penelitian tersebut harus baru, belum pernah ada yang menelitinya. Pembuktian bahwa penelitian yang kita lakukan baru juga harus disampaikan dalam tulisan. Kita harus menyertakan hasil riset kita tentang keberadaan penelitian-penelitian yang memiliki topik serupa dengan penelitian kita, serta apa yang membedakan penelitian kita dengan penelitian terdahulu tersebut.


Lalu hal yang penting lain adalah bagaimana kita menangkap perhatian audience tulisan kita tersebut. Saya teringat ketika menonton sebuah film romantic berjudul Alex & Emma. Alex (Luke Wilson) adalah seorang penulis, sedangkan Emma (Kate Hudson) adalah seorang stenographer. Emma tidak sabaran menunggu Alex memulai cerita novelnya. Selama 2 hari pertama, Alex belum mampu menulis kalimat pertama yang mengawali novelnya. Lalu di film itu, Alex menjelaskan betapa pentingnya kalimat pertama dalam menangkap perhatian pembaca. Ia mencontohkan beberapa karya sastra terkenal yang memiliki kalimat pertama yang begitu menangkap. Sayangnya saya lupa apa saja. Harus nonton lagi kayaknya. Hmm...


Well, as far as the story goes, Alex mendapatkan kalimat pertama yang capturing, dan nanti akhirnya dia pacaran sama Emma. Dah. Ok kembali ke topic, ya, kita harus mampu membuat pembaca tertarik dan yakin bahwa penelitian kita penting. Mencari relevansi dan signifikansi adalah hal pertama yang harus kita lakukan. Tanyakan berulang-ulang: Kenapa penting? Kenapa penelitian saya penting? Atau meminjam dari dosen pembimbing saya waktu S1 dulu, Pak Iwan Pirous: Kenapa sih penelitian ini MENDESAK untuk dilakukan? Pertanyaan itu yang selama ini saya gunakan dan selalu sukses untuk menggali signifikansi penelitian. Dengan menjawab pertanyaan itu, tulisan mengenai kenapa penelitian ini penting jadi terasa dramatis dan dengan demikian pembaca dapat memahami dengan baik maksud kita, serta terpesona dengan betapa pentingnya penelitian kita tersebut. Hehehe.


Anyway, good luck untuk teman-teman yang sedang menulis, baik proposal ataupun hasil penelitiannya. Semoga tips di atas bisa membantu yah. Yang jelas kalau saya sih terbantu banget dengan penjelasan di atas. Lebih jauh lagi, cerita kesuksesan Pak Prof. Nasikin bener-bener menginspirasi untuk semangat menjadi peneliti. Beliau benar-benar sukses membuat penemuan-penemuan baru yang sangat bermanfaat dan bahkan bisa meraup manfaat secara ekonomi dari penemuan tersebut. Tapi tentunya tiak mengalahkan kebanggaan akan hasil dari kerja keras.



Remember kids: The only difference between science and screwing around is when you write it down –Adam Savage, Mythbusters-

Thursday, June 27, 2013

Borneo adalah Kalimantan tapi Kalimantan itu bukan Borneo

Waktu ngobrol dengan salah satu orang Dayak di Sarawak, saya keceplosan menyebut “tempat asalnya” sebagai “Kalimantan”. Dia mengoreksi saya. “Sarawak” katanya. Oh.

Bagi saya Kalimantan adalah nama bagi seluruh pulau itu. Bahasa Inggrisnya Borneo, bahasa Indonesianya Kalimantan. Ketika dialog di atas terjadi, si orang Dayak Sarawak kaget saya menyebut Kalimantan, sedangkan saya kaget ia tak mau saya sebut dari Kalimantan. Bangsa-bangsa yang terbentuk karena kolonialisme memang jadi agak unik. Satu suku, berbeda negara. Tidakkah aneh? Apakah yang aneh itu konsep suku atau konsep negara? Yang jelas batas negara Indonesia dan Malaysia muncul hanya setelah kemerdekaannya. Maka suku Dayak yang tinggal di perbatasan tiba-tiba harus merevisi identitasnya. Bukan lagi hanya Dayak Iban, Dayak Kahayangan, tapi Dayak Malaysia dan Dayak Indonesia. Lebih runyam lagi ketika pembangunan yang terjadi di kedua negara sangat berbeda jauh. Ini lah yang sedikit banyak berusaha ditangkap oleh produser dan sutradara Marcella Zalianty dalam film garapannya berjudul “Batas”. Kisahnya tentang seorang pegawai bidang CSR yang berusaha menyelidiki mengapa program pendidikan di Kalimantan tidak berjalan. Di sana ia bertemu dengan masalah-masalah perbatasan, masalah kemauan masyarakatnya untuk maju, masalah pelik terkait dengan perdagangan manusia, ancaman dan terror. Oh, should I mention that she also meet with a very handsome policeman there? Nggak adil! Berkali-kali ke Kalimantan, nggak sekalipun saya ketemu mahluk ganteng kayak gitu L

Bangsa adalah komunitas terbayangkan (imagined communities) kata Bennedict Anderson. Apa sih yang membuat kita menyebut bangsa Dayak di ujung pulau Kalimantan itu sebagai saudara kita? Kita kenal nggak? Pernah ketemu? Berapa kali? Apa yang membuat kita dan dia sama-sama mengidentifikasikan diri sebagai bangsa Indonesia? (oh ya, apakah kita yakin saudara kita itu juga merasa sebagai sama-sama bangsa Indonesia? J). Ya kita hanya “membayangkan” Indonesia. Bukan, bukan berarti bayangan berarti tidak penting. Bayangan ini membuat luapan emosi yang sangat powerful. Berapa orang Indonesia yang diperas air matanya melalui film “Batas”? Berapa orang Indonesia yang siap maju perang waktu dibilang bahwa Malaysia mau merebut “wilayah” Indonesia (wilayah warisan Hindia Belanda).


Saking batas-batas negara itu “dibayangkan”nya, potret wilayah perbatasan di Indonesia memang begitu miris. Sudah mereka harus struggle dengan identitas mereka yang terpecah, mereka masih harus menghadapi masalah kesenjangan, kesulitan akses. Sedangkan kita yang tinggal di Jakarta menikmati begitu banyak fasilitas (masih pake ngeluh lagi), sedangkan uang banyak mengalir karena kita mengeruk kekayaan alam Kalimantan. Tidakkah kita sedih dan malu? 

Korupsi adalah kejahatan luar biasa

Baru beberapa hari sebelum saya berangkat seminar, saya ngobrol dengan salah satu teman saya mengenai budaya korupsi. Mentang-mentang saya antropolog, dia berharap saya bisa menjelaskan mengenai budaya korupsi. Saya bilang, maaf saya belum pernah penelitian tentang itu, apalagi go native J. Sebagai ekonom, kemudian dia membahas bagaimana dampak korupsi secara makro. Bahwa hal sesimpel menyimpan uang hasil korupsi bisa membuat kerugian besar-besaran dalam sistem ekonomi makro. Detilnya…silakan tanya saja deh sama yang ekonom. Hehehe. Saya nggak ngerasa kompeten menjelaskannya.

Materi mengenai korupsi yang dibawakan oleh Erry Riana Harjapamungkas, mantan ketua KPK membawa beberapa pencerahan bagi saya. Teori The Fraud Triangle milik Donald Cressey yang disampaikan oleh Pak Erry, saya pikir sangat bagus dalam menangkap “misteri” di balik kenapa seseorang bisa tega melakukan korupsi: peluang, rasionalisasi dan insentif. Di Indonesia, sayangnya ketiga hal ini begitu kuat mendorong perilaku korupsi. Sistem yang ada memberi peluang untuk adanya korupsi (penyerapan anggaran?), rasionalisasi begitu banyak tersedia (everybody does it) dan insentif? Nggak usah ditanya, malah bisa dibilang pressure (if I don’t do this, I won’t even survive).

Menghadapi benang kusut masalah korupsi di Indonesia, siapapun akan tergoda untuk menyerah. Akan tetapi pemberantasan korupsi tidak membutuhkan waktu sebentar. Minimal 30 tahun gitu. Belajar dari negara-negara yang sudah lebih dulu sukses memberantas korupsi, selama itu lah waktu yang dibutuhkan. Maka jangan jiper dulu. Memang masih panjang perjalanan.


Menyaksikan film mengharukan berjudul “Selamat Siang, Risa!” sebagai bagian dari rangkaian film “Kita vs Korupsi” yang dibuat dalam kerjasama antara KPK dengan Transparency International Indonesia, menyisakan perasaan positif dalam diri kita. Mengingatkan bahwa diantara mayoritas orang yang sudah terkorupsi moralnya, masih ada yang memegang teguh integritas. Ada harapan bahwa, orang-orang ini lah yang akan makin banyak di masa mendatang. Pesan positif ini sangat menyegarkan di tengah-tengah kefrustrasian memerangi ruwetnya jalinan korupsi dan betapa massif dampak yang diberikannya. Bagi saya yang bekerja di bidang pengelolaan sumber daya alam, dampak korupsi sungguh menghancurkan hati. Alam yang rusak, hewan-hewan yang binasa, masyarakat yang tertindas akibat dari korupsi benar-benar membuat kita bertanya-tanya manusia macam apa yang tega melakukan semua ini. Korupsi adalah kejahatan luar biasa.

Wednesday, June 26, 2013

Seminar Kewirausahaan Sosial untuk Indonesia bersama Gorris Mustaqim

What a wonderful person he is.

Gorris Mustaqim, pengusaha asal Garut bercerita bagaimana ia membangun kampung halamannya. Begitu menerima sukses, ia menggunakan sumber daya yang dimilikinya untuk berbagi dengan komunitas. Ia mendirikan Asgar Muda (Asgar = Asal Garut) yang melakukan berbagai kegiatan sosial di Garut. Kegiatan yang dilakukannya antara lain pendidikan, kewirausahaan dan juga community development melalui berbagai skema investasi.

Ia memaparkan bagaimana Muhammad Yunus melalui Grameen Bank membiayai usaha kecil, melalui pemikiran bahwa gap antara kaum borjuis dengan proletar dapat dihilangkan melalui aliran modal. Maka ini pun yang coba dilakukannya di kampung halamannya di Garut. Usahanya fokus dalam memperkecil gap antara kedua kaum ini. Satu hal yang saya amat ingat dari omongan beliau, karena sama persis dengan apa yang saya pikirkan only he said it in a so much better way, adalah mengenai pendidikan. Saat ini begitu banyak sekolah bagus yang mahal, yang hanya orang berduit yang bisa menyekolahkan anaknya ke sana. Di sisi lain, orang yang nggak berduit hanya mampu menyekolahkan anaknya ke sekolah yang biasa-biasa saja. Miris. Pendidikan yang semestinya menjadi alat bagi orang untuk memanjat ke strata sosial dan ekonomi yang lebih baik, malah menjadi alat untuk mempertahankan status quo. Jika sekolah tidak dapat diakses oleh semua orang, baik kaya atau miskin, maka ketika seseorang lahir miskin, itu menjadi keadaan terberi bagi masa depannya. Jika sekolah yang bagus hanya dapat diakses oleh orang kaya, maka hanya anak orang kaya saja yang nantinya akan sukses dalam kompetisi dan menjadi kaya. Semestinya, semua orang berkesempatan sama. Semestinya, nasib orang ditentukan dari keuletan dan bukan dari orang tua mana ia terlahir.


Tentunya masih banyak lagi cerita dari pembicara yang satu ini. Akan tetapi cukuplah dengan mengatakan bahwa ia sudah menginspirasi semua yang hadir untuk dapat berkontribusi sosial yang lebih bagi komunitasnya, menjadi agen perubahan dan juga terus memupuk semangat kewirausahaan. Kadang butuh sekedar inspirasi bagi terjadinya perubahan.

Belajar di luar negeri pakai duit rakyat? Senangnya diurusin ama negeri tercinta :)

Hidup di Indonesia itu susah nggak sih? Katanya sih susah. Dari segi fasilitas aja, rasanya tiap hari pingin marah-marah ketemu kondisi trotoar yang nggak rapi, kendaraan umum yang nggak bagus, pelayanan publik yang cepat dan harus serba nyogok. Ya, saya selalu bisa menemukan hal untuk dikeluhkan mengenai Indonesia. Tapi selama 29 tahun hidup saya, sekarang akhirnya ngerasain juga diurusin ama negara. Gimana tuh? Lewat program beasiswa dari yang namanya Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).

Jadi ceritanya gini, ada duit nih dari APBN buat dana pendidikan, nah terus dana ini dikelola oleh LPDP. Dananya digunakan sebagai dana abadi yang diinvestasikan, nanti keuntungannya yang dipakai untuk macem-macem. Ada 3 hal yang didanai oleh LPDP yaitu: beasiswa magister dan doktor, dana riset dan dana rehabilitasi pendidikan (misalnya sekolah yang rusak karena bencana). Dana ini dikelola oleh bentuk lembaga negara bernama BLU sehingga dia terpisah dari anggaran negara. Jadi nggak ada tuh yang namanya duit keluarnya seret karena harus nunggu tahun anggaran. Saat ini LPDP megang duit itu sampai 15 triliun lho! Bayangin seberapa banyak yang bisa disekolahin dan berapa banyak riset yang bisa dibiayain.

Apa sih yang memicu terbentuknya LPDP ini? Ah lagi-lagi survey McKinsey. Akhir-akhir ini sering banget saya ketemu ama yang namanya survey McKinsey ini J. Jadi, karena diprediksikan adanya kebutuhan akan tenaga kerja yang memiliki skill tinggi di masa mendatang karena pertumbuhan ekonomi Indonesia, dan juga untuk menjaga kemampuan kompetisi Indonesia, maka semakin dibutuhkanlah orang-orang yang berpendidikan tinggi. Kalau melihat angka-angka yang disajikan dalam survey itu, wah Indonesia kalah jauh lah sama negara-negara lain dari segi SDM. Ini lah yang mau dengan getol dikejar melalui LPDP.


Artinya buat kita apa? Kita masyarakat umum, bisa daftar buat dapet beasiswa (atau dana riset). Nggak harus dosen, nggak harus PNS, dan kita juga nggak diharuskan kerja buat institusi spesifik asalkan balik ke Indonesia. Iya dong ah, berangkat make duit pajak rakyat maka kita otomatis hutang budi sama rakyat Indonesia. Saya pun akan menuntut hal yang sama pada penerima beasiswa dalam posisi saya sebagai warga negara pembayar pajak. Ceileh, paling bayar pajak juga cuma berapa, hehehe. Tapi yang jelas saya sih bersyukur (atau mungkin lebih tepat dibilang lega), melihat ada kemajuan signifikan dalam kegiatan memajukan pendidikan di negeri ini. Syukurlah, saya jadi makin rela bayar pajak yah...