Hidup di Indonesia itu susah nggak sih? Katanya sih susah.
Dari segi fasilitas aja, rasanya tiap hari pingin marah-marah ketemu kondisi
trotoar yang nggak rapi, kendaraan umum yang nggak bagus, pelayanan publik yang
cepat dan harus serba nyogok. Ya, saya selalu bisa menemukan hal untuk dikeluhkan
mengenai Indonesia. Tapi selama 29 tahun hidup saya, sekarang akhirnya
ngerasain juga diurusin ama negara. Gimana tuh? Lewat program beasiswa dari
yang namanya Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).
Jadi ceritanya gini, ada duit nih dari APBN buat dana
pendidikan, nah terus dana ini dikelola oleh LPDP. Dananya digunakan sebagai
dana abadi yang diinvestasikan, nanti keuntungannya yang dipakai untuk macem-macem.
Ada 3 hal yang didanai oleh LPDP yaitu: beasiswa magister dan doktor, dana
riset dan dana rehabilitasi pendidikan (misalnya sekolah yang rusak karena
bencana). Dana ini dikelola oleh bentuk lembaga negara bernama BLU sehingga dia
terpisah dari anggaran negara. Jadi nggak ada tuh yang namanya duit keluarnya
seret karena harus nunggu tahun anggaran. Saat ini LPDP megang duit itu sampai
15 triliun lho! Bayangin seberapa banyak yang bisa disekolahin dan berapa
banyak riset yang bisa dibiayain.
Apa sih yang memicu terbentuknya LPDP ini? Ah lagi-lagi
survey McKinsey. Akhir-akhir ini sering banget saya ketemu ama yang namanya
survey McKinsey ini J.
Jadi, karena diprediksikan adanya kebutuhan akan tenaga kerja yang memiliki
skill tinggi di masa mendatang karena pertumbuhan ekonomi Indonesia, dan juga
untuk menjaga kemampuan kompetisi Indonesia, maka semakin dibutuhkanlah
orang-orang yang berpendidikan tinggi. Kalau melihat angka-angka yang disajikan
dalam survey itu, wah Indonesia kalah jauh lah sama negara-negara lain dari
segi SDM. Ini lah yang mau dengan getol dikejar melalui LPDP.
Artinya buat kita apa? Kita masyarakat umum, bisa daftar
buat dapet beasiswa (atau dana riset). Nggak harus dosen, nggak harus PNS, dan
kita juga nggak diharuskan kerja buat institusi spesifik asalkan balik ke
Indonesia. Iya dong ah, berangkat make duit pajak rakyat maka kita otomatis hutang
budi sama rakyat Indonesia. Saya pun akan menuntut hal yang sama pada penerima
beasiswa dalam posisi saya sebagai warga negara pembayar pajak. Ceileh, paling
bayar pajak juga cuma berapa, hehehe. Tapi yang jelas saya sih bersyukur (atau
mungkin lebih tepat dibilang lega), melihat ada kemajuan signifikan dalam kegiatan
memajukan pendidikan di negeri ini. Syukurlah, saya jadi makin rela bayar pajak yah...
No comments:
Post a Comment