Wednesday, June 26, 2013

Belajar di luar negeri pakai duit rakyat? Senangnya diurusin ama negeri tercinta :)

Hidup di Indonesia itu susah nggak sih? Katanya sih susah. Dari segi fasilitas aja, rasanya tiap hari pingin marah-marah ketemu kondisi trotoar yang nggak rapi, kendaraan umum yang nggak bagus, pelayanan publik yang cepat dan harus serba nyogok. Ya, saya selalu bisa menemukan hal untuk dikeluhkan mengenai Indonesia. Tapi selama 29 tahun hidup saya, sekarang akhirnya ngerasain juga diurusin ama negara. Gimana tuh? Lewat program beasiswa dari yang namanya Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).

Jadi ceritanya gini, ada duit nih dari APBN buat dana pendidikan, nah terus dana ini dikelola oleh LPDP. Dananya digunakan sebagai dana abadi yang diinvestasikan, nanti keuntungannya yang dipakai untuk macem-macem. Ada 3 hal yang didanai oleh LPDP yaitu: beasiswa magister dan doktor, dana riset dan dana rehabilitasi pendidikan (misalnya sekolah yang rusak karena bencana). Dana ini dikelola oleh bentuk lembaga negara bernama BLU sehingga dia terpisah dari anggaran negara. Jadi nggak ada tuh yang namanya duit keluarnya seret karena harus nunggu tahun anggaran. Saat ini LPDP megang duit itu sampai 15 triliun lho! Bayangin seberapa banyak yang bisa disekolahin dan berapa banyak riset yang bisa dibiayain.

Apa sih yang memicu terbentuknya LPDP ini? Ah lagi-lagi survey McKinsey. Akhir-akhir ini sering banget saya ketemu ama yang namanya survey McKinsey ini J. Jadi, karena diprediksikan adanya kebutuhan akan tenaga kerja yang memiliki skill tinggi di masa mendatang karena pertumbuhan ekonomi Indonesia, dan juga untuk menjaga kemampuan kompetisi Indonesia, maka semakin dibutuhkanlah orang-orang yang berpendidikan tinggi. Kalau melihat angka-angka yang disajikan dalam survey itu, wah Indonesia kalah jauh lah sama negara-negara lain dari segi SDM. Ini lah yang mau dengan getol dikejar melalui LPDP.


Artinya buat kita apa? Kita masyarakat umum, bisa daftar buat dapet beasiswa (atau dana riset). Nggak harus dosen, nggak harus PNS, dan kita juga nggak diharuskan kerja buat institusi spesifik asalkan balik ke Indonesia. Iya dong ah, berangkat make duit pajak rakyat maka kita otomatis hutang budi sama rakyat Indonesia. Saya pun akan menuntut hal yang sama pada penerima beasiswa dalam posisi saya sebagai warga negara pembayar pajak. Ceileh, paling bayar pajak juga cuma berapa, hehehe. Tapi yang jelas saya sih bersyukur (atau mungkin lebih tepat dibilang lega), melihat ada kemajuan signifikan dalam kegiatan memajukan pendidikan di negeri ini. Syukurlah, saya jadi makin rela bayar pajak yah...

No comments:

Post a Comment