Kalau ada satu hal yang saya sesali dari “karir” akademik
saya (if I have any), adalah bahwa saya tidak memiliki publikasi di jurnal
international. Ugh! Saya tahu saya mampu menulis dan sebagai buktinya sudah
banyak sekali laporan-laporan penelitian untuk kantor yang dengan brilian saya
kerjakan. Tapi ya itu. Itu laporan buat kantor.
Materi hari ini mengenai penulisan akademik, tentunya
termasuk mengulas hal yang sudah biasa: urut-urutannya. Tentunya dimulai ketika
kita menemukan masalah untuk dipecahkan. Maka kita mendapat ide untuk
memecahkan masalah yang kita temui untuk kemudian merancang penelitian untuk
ide itu. Lalu kita lakukan penelitiannya, tulis hasilnya dan kemudian
publikasi.
Tetapi hal menarik yang disampaikan Prof. Muhammad Nasikin
yang hari ini mengajarkan saya tentang academic writing adalah kenapa publikasi
itu penting, dan kriteria penting apa yang harus dimiliki oleh sebuah tulisan
agar menarik untuk dipublikasi. Publikasi menjadi penting agar tidak ada
repetisi dari penelitian yang dilakukan. Jangan sampai dua penelitian yang sama
dilakukan oleh dua orang yang berbeda, atau penelitian yang sudah ada
direpetisi lagi. Novelty adalah syarat amat penting dari sebuah penelitian yang
harus dipublikasikan. Penelitian tersebut harus baru, belum pernah ada yang
menelitinya. Pembuktian bahwa penelitian yang kita lakukan baru juga harus
disampaikan dalam tulisan. Kita harus menyertakan hasil riset kita tentang
keberadaan penelitian-penelitian yang memiliki topik serupa dengan penelitian
kita, serta apa yang membedakan penelitian kita dengan penelitian terdahulu
tersebut.
Lalu hal yang penting lain adalah bagaimana kita menangkap
perhatian audience tulisan kita tersebut. Saya teringat ketika menonton sebuah
film romantic berjudul Alex & Emma. Alex (Luke Wilson) adalah seorang
penulis, sedangkan Emma (Kate Hudson) adalah seorang stenographer. Emma tidak
sabaran menunggu Alex memulai cerita novelnya. Selama 2 hari pertama, Alex
belum mampu menulis kalimat pertama yang mengawali novelnya. Lalu di film itu,
Alex menjelaskan betapa pentingnya kalimat pertama dalam menangkap perhatian
pembaca. Ia mencontohkan beberapa karya sastra terkenal yang memiliki kalimat
pertama yang begitu menangkap. Sayangnya saya lupa apa saja. Harus nonton lagi
kayaknya. Hmm...
Well, as far as the story goes, Alex mendapatkan kalimat
pertama yang capturing, dan nanti akhirnya dia pacaran sama Emma. Dah. Ok
kembali ke topic, ya, kita harus mampu membuat pembaca tertarik dan yakin bahwa
penelitian kita penting. Mencari relevansi dan signifikansi adalah hal pertama
yang harus kita lakukan. Tanyakan berulang-ulang: Kenapa penting? Kenapa
penelitian saya penting? Atau meminjam dari dosen pembimbing saya waktu S1
dulu, Pak Iwan Pirous: Kenapa sih penelitian ini MENDESAK untuk dilakukan?
Pertanyaan itu yang selama ini saya gunakan dan selalu sukses untuk menggali
signifikansi penelitian. Dengan menjawab pertanyaan itu, tulisan mengenai
kenapa penelitian ini penting jadi terasa dramatis dan dengan demikian pembaca
dapat memahami dengan baik maksud kita, serta terpesona dengan betapa
pentingnya penelitian kita tersebut. Hehehe.
Anyway, good luck untuk teman-teman yang sedang menulis,
baik proposal ataupun hasil penelitiannya. Semoga tips di atas bisa membantu
yah. Yang jelas kalau saya sih terbantu banget dengan penjelasan di atas. Lebih
jauh lagi, cerita kesuksesan Pak Prof. Nasikin bener-bener menginspirasi untuk
semangat menjadi peneliti. Beliau benar-benar sukses membuat penemuan-penemuan
baru yang sangat bermanfaat dan bahkan bisa meraup manfaat secara ekonomi dari
penemuan tersebut. Tapi tentunya tiak mengalahkan kebanggaan akan hasil dari kerja
keras.
Remember kids: The only difference between science and
screwing around is when you write it down –Adam Savage, Mythbusters-
No comments:
Post a Comment