Friday, June 28, 2013

Menulis akademik: Sekelumit how-to

Kalau ada satu hal yang saya sesali dari “karir” akademik saya (if I have any), adalah bahwa saya tidak memiliki publikasi di jurnal international. Ugh! Saya tahu saya mampu menulis dan sebagai buktinya sudah banyak sekali laporan-laporan penelitian untuk kantor yang dengan brilian saya kerjakan. Tapi ya itu. Itu laporan buat kantor.


Materi hari ini mengenai penulisan akademik, tentunya termasuk mengulas hal yang sudah biasa: urut-urutannya. Tentunya dimulai ketika kita menemukan masalah untuk dipecahkan. Maka kita mendapat ide untuk memecahkan masalah yang kita temui untuk kemudian merancang penelitian untuk ide itu. Lalu kita lakukan penelitiannya, tulis hasilnya dan kemudian publikasi.


Tetapi hal menarik yang disampaikan Prof. Muhammad Nasikin yang hari ini mengajarkan saya tentang academic writing adalah kenapa publikasi itu penting, dan kriteria penting apa yang harus dimiliki oleh sebuah tulisan agar menarik untuk dipublikasi. Publikasi menjadi penting agar tidak ada repetisi dari penelitian yang dilakukan. Jangan sampai dua penelitian yang sama dilakukan oleh dua orang yang berbeda, atau penelitian yang sudah ada direpetisi lagi. Novelty adalah syarat amat penting dari sebuah penelitian yang harus dipublikasikan. Penelitian tersebut harus baru, belum pernah ada yang menelitinya. Pembuktian bahwa penelitian yang kita lakukan baru juga harus disampaikan dalam tulisan. Kita harus menyertakan hasil riset kita tentang keberadaan penelitian-penelitian yang memiliki topik serupa dengan penelitian kita, serta apa yang membedakan penelitian kita dengan penelitian terdahulu tersebut.


Lalu hal yang penting lain adalah bagaimana kita menangkap perhatian audience tulisan kita tersebut. Saya teringat ketika menonton sebuah film romantic berjudul Alex & Emma. Alex (Luke Wilson) adalah seorang penulis, sedangkan Emma (Kate Hudson) adalah seorang stenographer. Emma tidak sabaran menunggu Alex memulai cerita novelnya. Selama 2 hari pertama, Alex belum mampu menulis kalimat pertama yang mengawali novelnya. Lalu di film itu, Alex menjelaskan betapa pentingnya kalimat pertama dalam menangkap perhatian pembaca. Ia mencontohkan beberapa karya sastra terkenal yang memiliki kalimat pertama yang begitu menangkap. Sayangnya saya lupa apa saja. Harus nonton lagi kayaknya. Hmm...


Well, as far as the story goes, Alex mendapatkan kalimat pertama yang capturing, dan nanti akhirnya dia pacaran sama Emma. Dah. Ok kembali ke topic, ya, kita harus mampu membuat pembaca tertarik dan yakin bahwa penelitian kita penting. Mencari relevansi dan signifikansi adalah hal pertama yang harus kita lakukan. Tanyakan berulang-ulang: Kenapa penting? Kenapa penelitian saya penting? Atau meminjam dari dosen pembimbing saya waktu S1 dulu, Pak Iwan Pirous: Kenapa sih penelitian ini MENDESAK untuk dilakukan? Pertanyaan itu yang selama ini saya gunakan dan selalu sukses untuk menggali signifikansi penelitian. Dengan menjawab pertanyaan itu, tulisan mengenai kenapa penelitian ini penting jadi terasa dramatis dan dengan demikian pembaca dapat memahami dengan baik maksud kita, serta terpesona dengan betapa pentingnya penelitian kita tersebut. Hehehe.


Anyway, good luck untuk teman-teman yang sedang menulis, baik proposal ataupun hasil penelitiannya. Semoga tips di atas bisa membantu yah. Yang jelas kalau saya sih terbantu banget dengan penjelasan di atas. Lebih jauh lagi, cerita kesuksesan Pak Prof. Nasikin bener-bener menginspirasi untuk semangat menjadi peneliti. Beliau benar-benar sukses membuat penemuan-penemuan baru yang sangat bermanfaat dan bahkan bisa meraup manfaat secara ekonomi dari penemuan tersebut. Tapi tentunya tiak mengalahkan kebanggaan akan hasil dari kerja keras.



Remember kids: The only difference between science and screwing around is when you write it down –Adam Savage, Mythbusters-

No comments:

Post a Comment