Friday, June 28, 2013

Membangun kapasitas dan karakter pemimpin bangsa: Pemaparan dari sosiolog Imam Prasodjo

Jujur, ini tulisan paling sulit saya buat. Karena Pak Imam Prasodjo menyampaikannya dengan amat sangat brilian, saya nggak tau lagi bagaimana menulisnya. Keindahan dari materi ini adalah cara penyampaiannya serta “dialog” antara sang pembicara dengan audience dan saya tak mampu mereplikasinya dalam tulisan ini.

Dengan resiko bahwa tulisan ini kering kerontang kayak padang pasir… here goes

Ada dua syarat yang menjadikan seseorang mendapat kepercayaan dari orang banyak: kapasitas dan karakter. Kapasitas adalah skill untuk dapat mengetahui sesuatu, sedangkan karakter adalah yang menjadikan tindakan yang mengeksekusi pengetahuan tersebut. Sebagai contoh, perlu skill

Apakah pemimpin itu?
Ada beberapa kata kunci yang menjelaskan arti kata pemimpin:
-          Mampu menggerakan orang lain
-          Kegiatan terencana
-          Perubahan nyata
-          Kehidupan bersama
-          Memberi motivasi
-          Tanpa pemaksaan
Nah sok atuh deh, coba rangkai kata kunci di atas menjadi suatu kalimat yang make sense! Nah lo, kok jadi puzzle. Habis definisinya panjang banget sih, jadi saya coba potong-potong jadi kata-kata kunci seperti di atas.

Ada beda antara pemimpin, manajer dan administrator. Pemimpin memiliki visi, manajer melakukan eksekusi dari visi tersebut, sedangkan administrator memelihara. Aaaaah baiklah. Pembagian tugas yang cukup jelas. Sebuah organisasi tidak akan bisa berjalan dengan baik tanpa ketiga fungsi itu.

Kemudian lagi-lagi masalah Indonesia yang multicultural. Memang ini adalah salah satu karakter penting dari bangsa Indonesia yang sepertinya tidak boleh kita lupakan. Kita terdiri dari berbagai adat, yang termasuk dalam berbagai etnik, ras dan agama, yang termasuk dalam berbagai bangsa, yang bersatu dalam satu modern nation, yang dipayungi oleh negara. Ada banyak aspek yang harus dibangun. Dalam nation building kita harus dapat membangun human resources, organizational development dan institution and legal framework.

Dan hanya sebegitulah yang bisa saya tuliskan. Kuliah sosiologi (dan antropologi) memang kadang agak abstrak begini sih. The weird thing is, you feel like you learn a lot from the lecture, and you do understand what s/he is talking about but you just can’t restate it.

Okay maybe that’s just me…


No comments:

Post a Comment