Wednesday, June 26, 2013

Seminar Kewirausahaan Sosial untuk Indonesia bersama Gorris Mustaqim

What a wonderful person he is.

Gorris Mustaqim, pengusaha asal Garut bercerita bagaimana ia membangun kampung halamannya. Begitu menerima sukses, ia menggunakan sumber daya yang dimilikinya untuk berbagi dengan komunitas. Ia mendirikan Asgar Muda (Asgar = Asal Garut) yang melakukan berbagai kegiatan sosial di Garut. Kegiatan yang dilakukannya antara lain pendidikan, kewirausahaan dan juga community development melalui berbagai skema investasi.

Ia memaparkan bagaimana Muhammad Yunus melalui Grameen Bank membiayai usaha kecil, melalui pemikiran bahwa gap antara kaum borjuis dengan proletar dapat dihilangkan melalui aliran modal. Maka ini pun yang coba dilakukannya di kampung halamannya di Garut. Usahanya fokus dalam memperkecil gap antara kedua kaum ini. Satu hal yang saya amat ingat dari omongan beliau, karena sama persis dengan apa yang saya pikirkan only he said it in a so much better way, adalah mengenai pendidikan. Saat ini begitu banyak sekolah bagus yang mahal, yang hanya orang berduit yang bisa menyekolahkan anaknya ke sana. Di sisi lain, orang yang nggak berduit hanya mampu menyekolahkan anaknya ke sekolah yang biasa-biasa saja. Miris. Pendidikan yang semestinya menjadi alat bagi orang untuk memanjat ke strata sosial dan ekonomi yang lebih baik, malah menjadi alat untuk mempertahankan status quo. Jika sekolah tidak dapat diakses oleh semua orang, baik kaya atau miskin, maka ketika seseorang lahir miskin, itu menjadi keadaan terberi bagi masa depannya. Jika sekolah yang bagus hanya dapat diakses oleh orang kaya, maka hanya anak orang kaya saja yang nantinya akan sukses dalam kompetisi dan menjadi kaya. Semestinya, semua orang berkesempatan sama. Semestinya, nasib orang ditentukan dari keuletan dan bukan dari orang tua mana ia terlahir.


Tentunya masih banyak lagi cerita dari pembicara yang satu ini. Akan tetapi cukuplah dengan mengatakan bahwa ia sudah menginspirasi semua yang hadir untuk dapat berkontribusi sosial yang lebih bagi komunitasnya, menjadi agen perubahan dan juga terus memupuk semangat kewirausahaan. Kadang butuh sekedar inspirasi bagi terjadinya perubahan.

No comments:

Post a Comment