Waktu ngobrol dengan salah satu orang Dayak di Sarawak, saya
keceplosan menyebut “tempat asalnya” sebagai “Kalimantan”. Dia mengoreksi saya.
“Sarawak” katanya. Oh.
Bagi saya Kalimantan adalah nama bagi seluruh pulau itu.
Bahasa Inggrisnya Borneo, bahasa Indonesianya Kalimantan. Ketika dialog di atas
terjadi, si orang Dayak Sarawak kaget saya menyebut Kalimantan, sedangkan saya
kaget ia tak mau saya sebut dari Kalimantan. Bangsa-bangsa yang terbentuk
karena kolonialisme memang jadi agak unik. Satu suku, berbeda negara. Tidakkah
aneh? Apakah yang aneh itu konsep suku atau konsep negara? Yang jelas batas
negara Indonesia dan Malaysia muncul hanya setelah kemerdekaannya. Maka suku
Dayak yang tinggal di perbatasan tiba-tiba harus merevisi identitasnya. Bukan
lagi hanya Dayak Iban, Dayak Kahayangan, tapi Dayak Malaysia dan Dayak
Indonesia. Lebih runyam lagi ketika pembangunan yang terjadi di kedua negara
sangat berbeda jauh. Ini lah yang sedikit banyak berusaha ditangkap oleh
produser dan sutradara Marcella Zalianty dalam film garapannya berjudul “Batas”.
Kisahnya tentang seorang pegawai bidang CSR yang berusaha menyelidiki mengapa
program pendidikan di Kalimantan tidak berjalan. Di sana ia bertemu dengan
masalah-masalah perbatasan, masalah kemauan masyarakatnya untuk maju, masalah
pelik terkait dengan perdagangan manusia, ancaman dan terror. Oh, should I
mention that she also meet with a very handsome policeman there? Nggak adil!
Berkali-kali ke Kalimantan, nggak sekalipun saya ketemu mahluk ganteng kayak
gitu L
Bangsa adalah komunitas terbayangkan (imagined communities)
kata Bennedict Anderson. Apa sih yang membuat kita menyebut bangsa Dayak di
ujung pulau Kalimantan itu sebagai saudara kita? Kita kenal nggak? Pernah
ketemu? Berapa kali? Apa yang membuat kita dan dia sama-sama
mengidentifikasikan diri sebagai bangsa Indonesia? (oh ya, apakah kita yakin
saudara kita itu juga merasa sebagai sama-sama bangsa Indonesia? J). Ya kita hanya “membayangkan”
Indonesia. Bukan, bukan berarti bayangan berarti tidak penting. Bayangan ini
membuat luapan emosi yang sangat powerful. Berapa orang Indonesia yang diperas
air matanya melalui film “Batas”? Berapa orang Indonesia yang siap maju perang
waktu dibilang bahwa Malaysia mau merebut “wilayah” Indonesia (wilayah warisan
Hindia Belanda).
Saking batas-batas negara itu “dibayangkan”nya, potret
wilayah perbatasan di Indonesia memang begitu miris. Sudah mereka harus struggle
dengan identitas mereka yang terpecah, mereka masih harus menghadapi masalah
kesenjangan, kesulitan akses. Sedangkan kita yang tinggal di Jakarta menikmati
begitu banyak fasilitas (masih pake ngeluh lagi), sedangkan uang banyak
mengalir karena kita mengeruk kekayaan alam Kalimantan. Tidakkah kita sedih dan
malu?
No comments:
Post a Comment