Thursday, June 27, 2013

Borneo adalah Kalimantan tapi Kalimantan itu bukan Borneo

Waktu ngobrol dengan salah satu orang Dayak di Sarawak, saya keceplosan menyebut “tempat asalnya” sebagai “Kalimantan”. Dia mengoreksi saya. “Sarawak” katanya. Oh.

Bagi saya Kalimantan adalah nama bagi seluruh pulau itu. Bahasa Inggrisnya Borneo, bahasa Indonesianya Kalimantan. Ketika dialog di atas terjadi, si orang Dayak Sarawak kaget saya menyebut Kalimantan, sedangkan saya kaget ia tak mau saya sebut dari Kalimantan. Bangsa-bangsa yang terbentuk karena kolonialisme memang jadi agak unik. Satu suku, berbeda negara. Tidakkah aneh? Apakah yang aneh itu konsep suku atau konsep negara? Yang jelas batas negara Indonesia dan Malaysia muncul hanya setelah kemerdekaannya. Maka suku Dayak yang tinggal di perbatasan tiba-tiba harus merevisi identitasnya. Bukan lagi hanya Dayak Iban, Dayak Kahayangan, tapi Dayak Malaysia dan Dayak Indonesia. Lebih runyam lagi ketika pembangunan yang terjadi di kedua negara sangat berbeda jauh. Ini lah yang sedikit banyak berusaha ditangkap oleh produser dan sutradara Marcella Zalianty dalam film garapannya berjudul “Batas”. Kisahnya tentang seorang pegawai bidang CSR yang berusaha menyelidiki mengapa program pendidikan di Kalimantan tidak berjalan. Di sana ia bertemu dengan masalah-masalah perbatasan, masalah kemauan masyarakatnya untuk maju, masalah pelik terkait dengan perdagangan manusia, ancaman dan terror. Oh, should I mention that she also meet with a very handsome policeman there? Nggak adil! Berkali-kali ke Kalimantan, nggak sekalipun saya ketemu mahluk ganteng kayak gitu L

Bangsa adalah komunitas terbayangkan (imagined communities) kata Bennedict Anderson. Apa sih yang membuat kita menyebut bangsa Dayak di ujung pulau Kalimantan itu sebagai saudara kita? Kita kenal nggak? Pernah ketemu? Berapa kali? Apa yang membuat kita dan dia sama-sama mengidentifikasikan diri sebagai bangsa Indonesia? (oh ya, apakah kita yakin saudara kita itu juga merasa sebagai sama-sama bangsa Indonesia? J). Ya kita hanya “membayangkan” Indonesia. Bukan, bukan berarti bayangan berarti tidak penting. Bayangan ini membuat luapan emosi yang sangat powerful. Berapa orang Indonesia yang diperas air matanya melalui film “Batas”? Berapa orang Indonesia yang siap maju perang waktu dibilang bahwa Malaysia mau merebut “wilayah” Indonesia (wilayah warisan Hindia Belanda).


Saking batas-batas negara itu “dibayangkan”nya, potret wilayah perbatasan di Indonesia memang begitu miris. Sudah mereka harus struggle dengan identitas mereka yang terpecah, mereka masih harus menghadapi masalah kesenjangan, kesulitan akses. Sedangkan kita yang tinggal di Jakarta menikmati begitu banyak fasilitas (masih pake ngeluh lagi), sedangkan uang banyak mengalir karena kita mengeruk kekayaan alam Kalimantan. Tidakkah kita sedih dan malu? 

No comments:

Post a Comment