Baru beberapa hari sebelum saya berangkat seminar, saya
ngobrol dengan salah satu teman saya mengenai budaya korupsi. Mentang-mentang
saya antropolog, dia berharap saya bisa menjelaskan mengenai budaya korupsi.
Saya bilang, maaf saya belum pernah penelitian tentang itu, apalagi go native J. Sebagai ekonom,
kemudian dia membahas bagaimana dampak korupsi secara makro. Bahwa hal sesimpel
menyimpan uang hasil korupsi bisa membuat kerugian besar-besaran dalam sistem
ekonomi makro. Detilnya…silakan tanya saja deh sama yang ekonom. Hehehe. Saya
nggak ngerasa kompeten menjelaskannya.
Materi mengenai korupsi yang dibawakan oleh Erry Riana
Harjapamungkas, mantan ketua KPK membawa beberapa pencerahan bagi saya. Teori
The Fraud Triangle milik Donald Cressey yang disampaikan oleh Pak Erry, saya
pikir sangat bagus dalam menangkap “misteri” di balik kenapa seseorang bisa
tega melakukan korupsi: peluang, rasionalisasi dan insentif. Di Indonesia,
sayangnya ketiga hal ini begitu kuat mendorong perilaku korupsi. Sistem yang
ada memberi peluang untuk adanya korupsi (penyerapan anggaran?), rasionalisasi
begitu banyak tersedia (everybody does it) dan insentif? Nggak usah ditanya,
malah bisa dibilang pressure (if I don’t do this, I won’t even survive).
Menghadapi benang kusut masalah korupsi di Indonesia,
siapapun akan tergoda untuk menyerah. Akan tetapi pemberantasan korupsi tidak
membutuhkan waktu sebentar. Minimal 30 tahun gitu. Belajar dari negara-negara
yang sudah lebih dulu sukses memberantas korupsi, selama itu lah waktu yang dibutuhkan.
Maka jangan jiper dulu. Memang masih panjang perjalanan.
Menyaksikan film mengharukan berjudul “Selamat Siang, Risa!”
sebagai bagian dari rangkaian film “Kita vs Korupsi” yang dibuat dalam
kerjasama antara KPK dengan Transparency International Indonesia, menyisakan
perasaan positif dalam diri kita. Mengingatkan bahwa diantara mayoritas orang
yang sudah terkorupsi moralnya, masih ada yang memegang teguh integritas. Ada
harapan bahwa, orang-orang ini lah yang akan makin banyak di masa mendatang.
Pesan positif ini sangat menyegarkan di tengah-tengah kefrustrasian memerangi
ruwetnya jalinan korupsi dan betapa massif dampak yang diberikannya. Bagi saya
yang bekerja di bidang pengelolaan sumber daya alam, dampak korupsi sungguh
menghancurkan hati. Alam yang rusak, hewan-hewan yang binasa, masyarakat yang
tertindas akibat dari korupsi benar-benar membuat kita bertanya-tanya manusia
macam apa yang tega melakukan semua ini. Korupsi adalah kejahatan luar biasa.
No comments:
Post a Comment